Berharap Laporan Penipuan Emas 7 Kg Ditangani Proporsional

0
494

emas batangan-ilustrasiSURABAYA (halopolisi.com) – Merasa masih mendapatkan pelayanan yang kurang maksimal, Tan Iman Maulana (42) warga Jalan Darmo Harapan, mengharapkan agar penyidik Polda Jatim bisa lebih maksimal dalam menangani kasusnya.

Pelapor menceritakan, persoalan itu bermula saat dia melaporkan kasus yang menimpa dirinya terkait penipuan emas seberat tujuh kilogram kepada polisi. Namun, hingga saat ini,menurut pelapor, kasusnya cenderung jalan di tempat.

“Saya yang lapor, kok malah saya yang ditanya,terkait dengan dimana saya belinya emas itu? Saya bisa saja menjawab, tapi itu kan pertanyaan tidak penting,” ujarnya Rabu, (19/8/2015).

Pelapor menguraikan kasus yang hendak dilaporkannya itu bermula pada tahun 2003 lalu. Saat itu, dia menerima uang sebesar Rp 2,7 miliar dari terlapor SO. Uang itu diberikan  kepada pelapor dengan tujuan modal usaha. “Tapi waktu itu sebenarnya juga diterima berdua dengan anaknya Pak SO, namanya HO. Pemberian itu melalui saya, karena Pak S0 tidak percaya dengan anaknya,” tuturnya.

Mereka kemudian menjalankan usaha property hingga tahun 2006. Namun, setelah itu uang tersebut dihabiskan oleh anaknya SO untuk bermain valas hingga bangkrut. Anehnya, pasca uang itu habis digunakan oleh HO, sang bapak justru meminta pelapor untuk mengembalikannya.

“Saat itu, saya disuruh datang di rumahnya, dan karena merasa tertekan, maka saya bayar  dengan emas seberat tujuh kilogram yang nilainya Rp 1,4 miliar lengkap dengan surat-suratnya,” urai pelapor.

Pelapor membayar uang itu, dengan asumsi setengahnya memang menjadi tanggungjawabnya untuk mengembalikannya. Namun, beberapa waktu kemudian dia mendapatkan surat somasi dari kuasa hukum SO. Somasi itu berisi permintaan kepada pelapor untuk mengembalikan sisa uangnya. Saat itu pelapor merasa kaget, dan tidak mampu membayarnya.

“Mereka akhirnya melaporkan ke Polrestabes Surabaya pada tahun 2007, dan saya sempat ditahan d selama satu tahun,” jelasnya. Tidak hanya itu, SO dan HO juga hendak menyita dua unit rumah pelapor yang ada di Jalan Darmo Harapan senilai Rp 6 miliar, serta mengajukan ke Pengadilan Negeri Surabaya surat pailit. “Tapi beruntung, waktu itu semua permintaan mereka ditolak oleh pengadilan, makanya saya sekarang balik melaporkan mereka ke Polda Jatim pada 27 Maret lalu dengan bukti laporan bernomor: Tbl/488/III/2015/UM/Jatim.

Menanggapi hal itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Raden Argo Prabowo Yuwono mempersilahkan jika ada masyarakat yang kurang puas dengan pelayanan. Namun, tentu saja dalam penangganan suatu kasus atau laporan, penyidik tidak sembarangan dalam menjalankan tugasnya karena ada prosedur-prosedur yang harus ditaati dan penyidik juga memerlukan waktu untuk menjalankan proses dan tahapan.

“Hak pelapor jika merasa kurang puas, yang penting semuanya dilakukan berdasarkan proses dan mekanisme  hukum yang ada, karena semuanya juga perlu waktu,” kata Argo. (den/wis)

FOTO: ilustrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here